Penulis : Green Sands Team

sendang sonolr

Berpacu ke arah barat mengikuti pergerakan matahari, saya menempuh perjalanan sekitar 45 kilometer menggunakan sepeda motor dari kota Yogyakarta. Setelah melewati jalan berliku di kaki bukit Menoreh, akhirnya sampai juga di sebuah tempat yang menjadi scene akhir kisah perjalanan absurd dua orang pemuda-pemudi dalam film Indonesia “3 Hari untuk Selamanya”, kompleks perziarahan umat Katolik, Sendangsono.

Nama Sendangsono tersusun atas dua kata yang mengacu pada letaknya. “Sendang” artinya mata air dan “sono” artinya pohon sono, sehingga penggabungan dua arti katanya adalah mata air yang terdapat di bawah pohon sono. Jika ditelusur berdasarkan historis, sebelum tahun 1904 mata air (sendang) ini bernama Sendang Semagung yang digunakan sebagai tempat persinggahan para bhikku menuju daerah Boro yang terletak di selatan Sendangsono. Namun, setelah kedatangan Pastur Van Lith yang membaptis 173 warga Kalibawang menggunakan air sendang pada 20 Mei 1904, tempat ini beralih sebagai tempat ziarah umat Katolik.

Gereja Promasan yang bertanggung jawab atas pengelolaan tempat ini, memang tidak mengizinkan adanya penarikan biaya bagi para pengunjung, termasuk juga untuk toilet. Pengunjung hanya ditarik karcis parkir yang pengelolaannya dipegang oleh pemerintah daerah.

Kawasan Sendangsono ditata ulang oleh Pastor Y.B. Mangunwijaya pada tahun 1970-an dan pernah mendapatkan penghargaan Aga Khan Award dari Ikatan Arsitektur Indonesia tahun 1991 di bidang bentuk bangunan khusus kategori penataan lingkungan. Keunikan dari bangunannya terletak pada perpaduan arsitektur tradisi Jawa yang tetap nampak dari tampilan dan bahan bakunya yang banyak memanfaatkan kayu dan bamboo. Bentuk pundak-berundak yang dinamis (mengingat lokasi yang berada di pegunungan) dan anak tangga yang bersusun selang-seling berbentuk segi enam, mampu membawa para peziarah ataupun pengunjung pada decak kagum keunikan karya arsitektur yang akrab dengan lingkungan ini. Selain itu terdapat unsur arsitektur Cina pada bangunan di Sendangsono, seperti dominasi corak warna merah, beberapa ukiran dan bentuk tangganya menyerupai bangunan China namun tetap memiliki corak Jawa. Inilah yang menjadi kelebihan dari Romo Mangun dalam merancang arsitektur Sendangsono dengan memadukan beberapa unsur Sumatra, Eropa, dan corak lainnya.
Kompleks Sendangsono terdiri atas beberapa bagian; kompleks makam, Gua Maria, kapel-kapel, sumber mata air, dan bangunan joglo yang dapat digunakan untuk beristirahat. Kita dapat mengunjungi makam Barnabas Sarikromo, yang merupakan sosok penting dalam pewartaan Gereja Katolik di tanah Jawa. Beliau adalah katekumen yang dibaptis pertama kali di Sendangsono dan mewartakan Injil ke berbagai daerah sekitar meskipun memiliki kekurangan fisik.

Pengunjung akan menemukan beberapa bangunan kapel yang memiliki ornament berbeda disesuaikan dengan penamaan kapelnya, misalnya ada Kapel Maria yang berisi patung Bunda Maria, Kapel Rasul yang menceritakan kisah perjuangan 12 rasul Kristus, dan Kapel Kristus yang terdapat patung Kristus disalib. Di sepanjang jalan menuju Gua Maria, dapat ditemukan fragmen-fragmen yang menceritakan perjalanan Yesus Kristus dalam mewartakan kabar gembira. Dan pada setiap fragmennya, terdapat tatakan lilin di mana umat Nasrani dapat menyalakan lilin, meberikan suasana damai di tempat itu. Air dari sendang tempat pembabtisan pertama juga dapat dinikmati. Air tersebut dialirkan melalui kran-kran yang dapat kita gunakan untuk mencuci muka, meminum, bahkan membawa pulang air ini dengan menyimpannya ke dalam botol.
Bunyi lonceng yang terdengar di area kompleks Sendangsono memanggil para peziarah maupun penduduk lokal yang di dominasi menganut agama Nasrani untuk merapat ke arah kapel Kristus melaksanakan ibadah misa sore. Tidak seperti di gereja-gereja biasanya yang memberikan bangku bagi para jemaat, di Sendangsono, para jemaat ada yang berdiri ataupun duduk disekitar undak-undakan tangga. Mereka mengisi setiap ruang kosong di atas bangunan yang berbentuk pundak-berundak.

Menjelajahi keindahan arsitektur kompleks Sendangsono yang memiliki kontur jalan berbukit memang melelahkan. Keringat yang membasahi kulit terasa cepat mengering akibat udara sejuk yang dihasilkan dari banyaknya vegetasi yang tumbuh dan membalut kompleks perziarahan Sendangsono. Dengan topografi seperti ini, Sendangsono layak bagi para peziarah untuk berdoa secara khusuk ataupun pengunjung yang ingin melakukan meditasi mencari ketenangan didukung dengan perpaduan antara alam yang asri dan keindahan bentuk arsitekturnya.

Tak terasa hari semakin gelap, dan beberapa pengunjung mulai meninggalkan kompleks ini. Saya pun menuju pintu keluar dan kembali ke Yogykarata . Bagi pengunjung yang ingin berbelanja souvenir rohani ataupun ingin menikmati kuliner khas di Sendangsono, dapat ditemukan di sekitar pintu keluar komplek Sendangsono. Untuk kuliner khasnya terdapat rica-rica anjing atau sering disebut sengsu (oseng-oseng asu).

Comments

comments

Click Here to Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>