Diluar keterlibatanya sebagai penabuh drum di band Naif, Franki Indrasmoro Sumbodo atau yang lebih akrab di panggil Pepeng sedang disibukkan aktifitas terbaru dengan komik perdananya ‘Setan Jalanan’. Komik ini merupakan obsesi dia semasa duduk di bangku sekolah dasar yang terpengaruh dari karakter-karakter pahlawan yang beraksi bersama sepeda motor (contohnya; Ghost Rider dan Kamen Rider). Green Sands pun mendapat kesempatan mewawancarai beliau lewat surat elektronik. Jadi, silahkan dibaca saja interview selengkapnya.

+ Sebenernya, apa tujuan Pepeng membuat komik Setan Jalanan? Diluar kesibukannya sebagai drummer dari band Naif.

– Tujuannya cuma satu. Menghidupkan ide yang ada di dalam kepala saya ini dan membaginya ke banyak orang. Syukur-syukur kalau bisa menginspirasi mereka.

+ Bercerita tentang apakah Setan Jalanan?

– Bercerita tentang perjalanan hidup anak muda bernama Kelana, yang berusaha melepas rasa dendamnya, mengubah energi negatif di dalam hatinya menjadi energi positif yang berguna bagi banyak orang. Adalah Josephine, seorang dosen di kampus tempat Kelana menimba ilmu, yang akan membawa Kelana ke dalam sebuah perjalanan yang berarti.

+ Apa tantangan-tantangan selama menjalankan dua profesi berbeda (musisi dan komikus)?

Sebetulnya mungkin kurang tepat kalau saya disebut sebagai seorang komikus. Memang, saya sejak kecil ingin jadi komikus, dan kebetulan saya tidak menggambar karya-karya komik yang saya create. Saya hanya mengarang, mendisain karakter, dan menuliskannya. Nanti pada saat produksi, saya membentuk tim komik sendiri.

Di karya saya terdahulu, Petualangan NAIF Dan Mesin Waktu (lebih dikenal dengan nama KomikNAIF), saya bekerja bersama tim produksi komik yang bernama Runa. Nah, di komik trilogi Setan Jalanan saya bekerja dalam tim komik yang saya bangun sendiri, bernama FrankKomik, dan memakai jasa illustrator komik yang bernama Haryadhi.

Mungkin penulis komik adalah istilah yang lebih tepat untuk saya. Saya memang pada akhirnya memutuskan untuk menjadi penulis komik aja dari pada jadi komikus. Sudah banyak komikus (dalam arti penggambar komik) yang keren-keren di Indonesia, saat ini. Sedangkan saya cukup sadar diri kalau skill menggambar saya sudah lama nggak dilatih, jadi nggak terlalu banyak perkembangan. Nah, di Indonesia sampai saat ini masih langka penulis komik yang bagus. Karena itulah saya akhirnya bermain di area ini.

Membagi waktu dengan profesi saya di dunia musik? Nggak terlalu sulit, sebetulnya. Karena saya percaya, semua orang sebetulnya diberkahi kemampuan untuk melakukan apapun, bahkan itu bila harus ber-multitasking. Tinggal apakah kita mau melakukannya aja, dan bila kita mau melakukannya, apakah kita rela untuk membagi waktu. Itu saja.

Sejauh ini sih saya masih bisa melakukannya. Ada momen di mana ketika dalam tour bareng NAIF, saya harus menuliskan naskah komik saya di saat senggang.

+ Dan sampai sekarang bagaimana perkembangan komik Indonesia dalam industri kreatif? 

– Sampai sejauh ini perkembangan komik Indonesia semakin bergairah. Saya mengamatinya sejak tahun 2007. Yang kata banyak orang komik Indonesia mati suri itu ternyata nggak sepenuhnya benar.

Di tahun 2007, sejak saya mulai bergaul dengan teman-teman di komunitas komik, pergerakan arus bawah ternyata cukup deras. Cuma sepertinya memang masih sulit untuk membawanya ke atas. Tapi perlahan, apalagi dengan maraknya film-film layar lebar yang diangkat dari karakter komik di Amerika sana, kondisi perkomikan kita semakin dilirik oleh banyak masyarakat. Ditambah lagi dengan ngehitsnya acara-acara komunitas toys, yang mana toys dan komik sangat berkawan erat. Saya optimis komik Indonesia akan semakin maju. Secara image. Kalau secara penjualan, para pemain industri komik kita harus menaikkan minat baca masyarakat kita dulu. Semua berawal dari minat baca.

+ Bisa berikan 5 nama komikus lokal yang banyak menginspirasi mas Pepeng untuk menekuni profesi dalam bidang ini?

– Bisa banget. Tapi sepertinya nggak semuanya komikus. Saya sertakan pula penulis.

pakdhe_20110311_1096413645

(source photo: www.wpapcommunity.com)

1. Wedha Abdul Rahman. Lebih dikenal sebagai Wedha, seorang illustrator dan disainer grafis senior. Saya mengenai beliau di majalah Hai, tahun 1992. Saat itu pertama kali saya bekerja sebagai freelance illustrator di majalah Hai, saya diinterview langung oleh mas Wedha.

Beliau banyak mengajarkan saya teknik menggambar, dan bagaimana menjadi seorang illustrator yang baik.

dwi-koendoro1

(source photo: www.dgi-indonesia.com)

2. Dwi Koendoro. Lebih ngetop dengan nama Dwi Koen. Beliau adalah salah satu komikus senior. Karya terkenalnya adalah komik strip di harian Kompas, Panji Koming; dan komik serialnya, Sawung Kampret.

Bisa dibilang, beliau yang menginspirasi saya untuk lebih serius dalam berkomik. Mengenal beliau pertama kali melalui anaknya, yang kebetulan adalah kakak kelas di kampus saya dulu, di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Saat itu memang saya berniat mengerjakan sebuah komik yang merupakan tugas akhir D-3 Disain Grafis saya. Proyeknya adalah Komik Perjalanan Musik Rock Indonesia.

Melalui om Dwi Koen saya akhirnya sadar bahwa untuk membuat komik yang bagus diperlukan sebuah cerita. Baru kemudian dituangkan melalui naskah, storyboard, dan akhirnya panel-panel komik. Proses itu yang harus dilalui sebelum akhirnya sebuah komik lahir.

1604416620X310

(Source photo : www.kompas.com)

3. Hilman Hariwijaya, pengarang dan penulis cerita Lupus, yang dulu ngetop di tahun ‘90an. Well, dia memang bukan komikus. Tapi dulu saya suka banget Lupus, dan karena Lupus saya akhirnya sempat getol belajar menulis cerita pendek. Tapi belum pernah saya kirim ke mana-mana, karena kurang percaya diri. Saya nggak mengenal mas Hilman, tapi sedikit banyak ia mempengaruhi saya untuk melatih diri dalam menulis, khususnya cerita fiksi.

jan03

(source photo : www.sangkolektor.i-dealogic.com )

4. Jan Mintaraga (almarhum). Saya nggak sempat berkenalan dengan beliau, karena beliau sudah meninggal. Sosok komikus lawas yang gambarnya saya sukai sejak kecil dulu, saat pertama saya mulai membaca komik-komik Indonesia.

beng2

(source photo : www.henrykomik.com)

5. Beng Rahadian, komikus senior kita. Saya sering merasa beruntung mengenal mas Beng. Banyak semangat saya berkomik timbul dari dorongannya. Mas Beng yang banyak memperkenalkan saya ke dalam dunia komik Indonesia, dan mengenalkan saya akan nikmatnya Kopi Nusantara. Saya suka karya komik strip mas Beng, Lotif. Baca deh. Bagus.

Sebetulnya masih ada lagi nama seperti Benny Rachmadi (Benny-Mice, Tiga Manula), Mice Misrad (Benny-Mice, Mice Cartoon), dan Diyan Bijac (Mat Jagung). Tapi karena dimintanya lima nama saja, ya sudah. (tertawa)

+ Menurut Pepeng, apa arti kata “inspiration”?

– Arti kata “inspiration”? Ya harafiah saja: Inspirasi. Sesuatu yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu, adalah sebuah inspirasi. Manusia saling menginspirasi satu sama lain. Itu adalah hukum alam. Karena itu kita perlu hati-hati dalam berlaku dan berkata, karena semua bisa berefek banyak hal, ke banyak makhluk.

+ Bisa berikan tips untuk orang orang yang masih malu membuat komik sendiri?

– Tipsnya satu saja: Nggak usah malu, karena malu nggak akan membawa faedah apa-apa untuk kita. Malu hanya akan membuat kita tidak berkembang dan mengembangkan diri. Malu hanya akan membuat kita tak berjalan ke mana-mana dan tersesat dalam ketidak kemana-manaan kita itu.

QUIZ: Ikuti kuis mingguan kita. Untuk informasi ikuti kita di Twitter klik ke >> @greensandsid

Instagram-Pepeng

Ikuti juga berita tentang Setan Jalanan disini:

www.facebook.com/setanjalanan.indonesia

www.twitter.com/setanjalanan_id

www.twitter.com/frankkomik

Comments

comments

Click Here to Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>